Hidup..ada orang tua, ada anak. Jika tidak ada orang tua pastilah anak tidak ada. Hehehe..itu kan pendapat saya, terserah saya mo ngomong apa selagi yang lain tidak tersinggung..hehehehe…
Ini adalah kisah sebenarnya tanpa ada rekayasa..
Setelah tamat dari SMK, seorang anak ingin melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi atau Perguruan Tinggi. Tapi dia sedikit bimbang melihat ekonomi keluarga yang kurang memadai. Setelah dibicarakan dengan orang tuanya, maka orang tuanya setuju, walau bagaimanapun caranya nanti..
Hari berganti, tibalah saatnya untuk mendaftar untuk dapat melakukan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau sekarang namanya SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Dengan penuh semangat, dia pergi mendaftarkan diri walaupun dengan pengetahuan tentang alamat pendaftaran tidak begitu pasti Ia ketahui. Tapi dengan semangat yang menggebu dia tetap melangkahkan kakinya menuju tempat pendaftaran.
Singkat cerita, dia akhirnya bisa mengikuti ujian tersebut ditempat yang tidak Ia ketahui pula sebelumnya.
Singkat cerita lagi, akhirnya tibalah saatnya pengumuman calon Mahasiswa yang diterima di Perguruan Tinggi yang sudah dipilih. Alangkah terkejutnya dia, ternyata pengorbanannya sia-sia, karena namanya tidak Ia temukan di Koran Pengumuman tersebut.
Sungguh sedihnya Ia. Dengan wajah sedih dan penuh kekecewaan Ia pun pergipulang kerumah dan berkatapada ibunya “Bu, nama saya tidak ada keluar..gimana lagi dong bu..?. Kalau melamar ke swasta pastilah Biayanya sangat besar dan pastilah sangat susah untuk dicapai..”
Dengan wajah sedikit senyum, ibunya menjawab “Sudahlah, mungin belum ada jalanmu disana dan mungkin saja Allah sedang menunjukimu ke jalan yang terbaik dari ini”. Mendengar perkataan ibunya seperti itu, terobatlah kekecewaannya tadi. Dia bertekad untuk mencari pekerjaan saja untuk waktu 1 tahun ini dan setelah itu Ia akan mencoba lagi untuk daftar di Perguruan Tinggi Negeri yang Ia inginkan.
Waktu berlalu..Ia pun semakin bingung mau ngapain. Baru beberapa bulan, tapi serasa sudah berabad..hm..mungkin karena gak da kerjaan..
Akhirnya, salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Padang membuka pendaftaran Mahasiswa Baru untuk angkatan perdananya.
Ia langsung pergi kekampus Uiversitas tersebut. Sama halnya, dia tidak tau kampus nya dimana dan seperti apa. Lagi-lagi dengan didorong semangat yang tinggi, maka Ia beranikan diri untuk mendaftar.
Singkatnya, Ia pun diterima di Perguruan Tinggi tersebut.
Waktu berlalu, semester awal Ia dapat menyelesaikan dengan baik dan semester kedua pun berakhir dengan nilai yang tidak mengecewakan..
Entah apa yang terjadi, pada semester selanjutnya sampai semester ke empat Ia mendapatkan nilai yang Anjlok sekali. Dia tidak terima hal itu, Ia sangat menyesal dan bertekad untuk mendapatkan yang lebih tinggi lagi.
Ia pun merenung dan Ia berkata, Mungkin ini merupakan peringatan untukku, karena aku jauh dari – Nya, sudah banyak melanggar perkataan orang tua dan banyak hal lain yang tidak bisa di ceritakan.
Dia pun terus berusaha..
Akhirnya dia teringat sesuatu, “Carilah apa yang membuat anda semangat, Jika seandainya ada sesuatu hal yang bisa membuat semangat dan dapat memberikan motifasi, maka raihlah itu..”. Dengan semangat akhirnya Ia menemukan apa yang membuatnya semangat dan Ia pun sangat senang sekarang karena Ia yakin untuk kali ini Ia dapat membuktikan lagi bahwa Ia mampu dan bisa berprestasi.
Tapi Ia pun sadar, bahwa semua itu tak ada gunanya jika peran orang tua dikesampingkan. Maka Ia pun mencoba untuk share dengan orang tuanya tentang masalah apaun yang Ia hadapi. Ia juga tidak pernah lupa untuk minta restu dan doa dari ortunya supaya Ia bisa sukses.
Ujian semester V pun datang. Ia sangat cemas dan bimbang walaupun selalu disemangati oleh “Inspiratornya“. Ia tidak lupa untuk share dengan ortunya dan ortunya bilang “Jangan Cemas, Do’a Ibu dan Bapak Selalu Menyertaimu kok, jadi yakinlah dengan kemampuanmu dan jangan pernah Lupa Pada-Nya serta berhati-hatilah..”.
Kata-kata itu tidak pernah lupa dari ungatannya dan masih nyaring terdengar di telinga nya. Ia yakin, Redha Allah terletak pada Redha Orang Tua dan Restu Allah juga Tergantung pada Restu Orang Tuanya.
Ujian pun berlalu, Ia selalu bercerita pada Orang Tuanya, kecemasan apa yang Ia rasakan dan membuat Ia patah semangat. Tapi orang tuanya tetap meghiburnya dengan senyuman yang tulus dari seorang ibu pada anaknya.
Akhirnya, Nilai pun keluar. Ia sangat senang sekali dengan prestasinya saat ini dan Ia bangga dengan Orang Tuanya yang selalu membimbingnya.
Ia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih untuk seseorang yang selalu ada dalam keadaan apapun buatnya. Dan orang yang selalu mendo’akan dan mensupport dirinya.
Terima Kasih ya. . . ALLAH. . .
Terima Kasih Ibu dan Bapakku. . .
Terima Kasih Nuansa Cintaku. . .
Terima Kasih Teman-Temanku semua. . .